info kegiatan detail

FISIP Universitas Malikussaleh
  • Info
  • Info Kegiatan
staff

Lhokseumawe – Peluang menang bagi calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada 2017 mendatang akan mendapatkan tanggapan dari berbagai macam para pemilih. Sebab, para kandidat (calon) mempunyai peta politik dan pemilih yang berbeda-beda, hal tersebut disampaikan Akademisi Sosiologi Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Nirzalin saat diskusi yang digelar oleh Aspikom Aceh bersama Pusat Studi Sosial Politik dan Ekonomi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal Aceh Utara dengan tema Pilkada Aceh dalam Perspektif Publik, Sabtu (03/09).

Ditambahkan Nirzalin, para kandindat tersebut diantaranya Muzakir Manaf (Mualem), Zaini Abdullah (Abu Doto), Zakaria Saman (Apa Karya), Irwandi Yusuf, Tarmizi Karim dan Abdullah Puteh pastinya telah mengatur strategi pemenangan dalam pilkada 2017 mendatang.

“Dari keenam balon Kepala Daerah tersebut, pastinya mempunyai kekuatan dan masa yang mendukung. Namun saya melihat dukungan tersebut tergantung dari sepak terjang para kandidat itu sendiri,” kata Nirzalin.

Peta dukungan Zaini Abdullah yang merupakan calon petahana tersebar di seluruh kabupaten/kota dan Zaini muncul juga karena prestasi calon wakilnya Nasaruddin yang menjabat sebagai Bupati Aceh Tengah, kemungkinan besar balon ini akan mendulang suara dominan dari warga Gayo dan Alas.

“Selain itu potensi suara juga ada di Pidie, Pijay, Aceh Tengah, Bener Meriah, Subulussalam dan Singkil. Tentunya sebagai incumbent kandidat Zaini dan Nasruddin akan mendapatkan promosi gratis setiap hari dan logistiknya pun kuat,” kata Nirzalin.

Sedangkan, peta dukungan untuk Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem yang saat ini memimpin Partai penguasa di Aceh penuh dengan berbagai kesiapan, pemilih Mualem tersebar di kabupaten/kota namun pemilih dominan terlihat di Pantai Timur Aceh.

Menurut Nirzalin, massa fanatik terhadap Mualem karena terikat dengan hubungan emosional masa konflik, jaringan mesin politik hingga ke pelosok desa masih sangat kuat dan terkomando dengan baik ala militer.

“Mualem juga didukung kuat oleh para ulama, tengku dayah dan santri dayah, Mualem dan T.A. Khalid juga mempunyai logistik yang kuat” sebut Nirzalin.

Sambung Nirzalin, berbeda hal dengan peta dukungan Irwandi Yusuf, pemilihnya juga tersebar di setiap kabupaten/kota yang dimana pemilihnya tersebar di Abas, Bireun, dan Aceh Tengah.

Irwandi juga memiliki jaringan yang baik dengan pusat dan logsistiknya juga tidak diragukan lagi. “Irwandi juga memiliki prestasi yang monumental yang selalu di ingat oleh masyarakat, diantaranya JKA, LPSDM, dan BPPBD,” ungkap Nirzalin.

Sebut Sosiolog ini, Irwandi juga memiliki mesin politik yang kuat, sistematis, terskruktur dan jaringan eks kombatan GAM yang kecewa dengan kepempimpinan sekarang.

Pendukung mantan Menteri Pertahanan GAM Zakaria Saman juga tersebar di kabupaten/kota, namun pemilihnya dari kalangan eks GAM yang kecewa dengan kelompok dominan elite Partai Aceh (PA).

“Potensi suara Apa Karya dominan di kampung kelahirannya dengan logistik yang lemah,” menurut Nirzalin.

Menurut Nirzalin, peta dukungan Tarmizi Karim secara geografis tersebar di kabupaten/kota namun dominan relatif di kampung halamannya (Lhoksukon). Tak hanya itu, Tarmizi juga mempunyai figur yang religius, pasti ini menjadi salah satu tolak ukur poin penting dalam citra positinya.

Tarmizi juga didukung oleh Parnas yang diminati oleh pemilih di Aceh seperti Nasdem, Golkar, PPP dan PKPI. Jaringannya keempat partai ini kuat di Jakarta dan banyak pemilih di kota dan terpelajar dengan melihat prestasinya, tentunya logistiknya juga kuat” tambah Nirzalin.

“Tarmizi juga sukses di Jakarta dan sempat menjadi penjabat gubernur di Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan saat ini masih menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), kata Nirzalin.

Disebutkan olehnya, Tarmizi Karim juga masih didukung oleh sebagian ulama dan santri dayah di Aceh Utara.

Terakhir, yang menarik pencalonan mantan Gubernur Aceh yang tersandung kasus korupsi Abdullah Puteh. Menurutnya, pemilih Abdullah Puteh terikat pada keberhasilannya saat memimpin Aceh pada tahun 2000 hingga 2003 lalu. Saat itu,  Abdullah Puteh berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat hingga 70 persen pertahun dan membangun taman Ratu Safiatuddin.

“Pemilih Abdullah Puteh pada umumnya pemilih tua dan logistiknya pasti cukup untuk bertempur pada pilkada 2017 mendatang,” tutupnya.

 

Sumber asli dapat diakses di : http://pelita8.com/dr-nirzalin-sosiolog-unimal-kandidat-kepala-daerah-aceh-miliki-pemilih-tersendiri/