info kegiatan detail

FISIP Universitas Malikussaleh
  • Info
  • Info Kegiatan
Post : 30 Juli 2016
staff

Lhoksukon -- Partai Aceh (PA) dinilai masih memiliki kans besar untuk memenangkan Pilkada Aceh 2017. Kuatnya jaringan kerja yang dimiliki hingga ke tingkat bawah, dinilai menjadi salah satu faktor penentu. Namun, bila tidak mengedepankan pola komunikasi yang baik, maka kans besar itu bisa berubah menjadi bumerang. Hal tersebut disampaikan Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Kamaruddin Hasan, saat berbincang dengan GoAceh, Jumat (29/7/2016). "Pada umumnya, setiap partai politik memang harus membangun komunikasi yang baik. Bila itu tidak diprioritaskan, nantinya publik akan menilai PA tidak demokratis. Itu akan menjadi senjata makan tuan bagi Partai Aceh," katanya kepada GoAceh.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unimal ini mengatakan, dari sejumlah keputusan strategis yang dilakukan, Partai Aceh cenderung mengabaikan komunikasi. Salah satu contoh, katanya, ketika Ketua Umum PA, Muzakir Manaf menggandeng T A Khalid sebagai wakilnya untuk maju sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, termasuk juga keputusan mengusung kembali Muhammad Thaib (petahana) sebagai calon bupati periode mendatang.

"Awal-awalnya, kan ada pertemuan tingkat KPA. Pada level awal mungkin sebagian simpatisan tidak sepakat dengan TA Khalid dan Cek Mad (sapaan akrab Muhammad Thaib). Tapi walaupun demikian, karena sistem komando ya tetap berjalan. Nah untuk pemilu yang demokratis kan punya aturan, punya mekanismenya. Kalau sistem komando yang dijalankan PA, saya kira kurang relevan," katanya.

Menurut Kamaruddin, jika Cek Mad dicalonkan kembali untuk Bupati Aceh Utara, PA harus membuat musyawarah besar yang dihadiri oleh seluruh petinggi partai lokal itu. Musyawarah penting itu menurutnya, meskipun Ketua Umum PA menunjukkan Cek Mad kembali sebagai calon bupati.

"Jadi konsep itu yang harus dijaga. Semua sagoe-sagoe dan masyarakat pendukungnya harus dilibatkan untuk menentukan calon. Kalau tidak, mungkin saat berhadapan saja mereka mengaku mendukung Cek Mad. Tapi pada hari H nanti di lapangan bisa saja berubah," imbuhnya.

Secara startegis, kata dia, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen merupakan basisnya pendukung PA. Jika daerah basisnya kalah, maka PA dianggap gagal walaupun daerah lain PA menang telak.

Sementara untuk Partai Nasional (Parnas), menurutnya, juga memiliki peluang untuk bersaing pada Pilkada 2017 mendatang. Namun, satu-satunya jalan agar Parnas menang adalah dengan cara berkoalisi.

"Parnas harus duduk bersama untuk mencalonkan figur yang belum berkoalisi dengan partai lokal. Apakah Tarmizi Karim misalnya, Abdullah Puteh, T M Nurlif atau siapa saja yang laku dijual ke publik. Intinya tetap harus berkoalisi. Itu satu-satunya jalan bagi Parnas," tegasnya.

 

Sumber asli dapat diakses di : http://www.goaceh.co/berita/baca/2016/07/29/kamaruddin-hasan-partai-aceh-harus-kedepankan-komunikasi#sthash.VXbw2dBH.dpbs