info kegiatan detail

FISIP Universitas Malikussaleh
  • Info
  • Info Kegiatan
staff

Bukit Indah, Lhokseumawe -- Kuliah umum bersama Bupati Kabupaten Pidie, Roni Ahmad (Abusyik), di Aula Fakultas FISIP Kampus Bukit Indah, Kota Lhokseumawe, Selasa 19 September 2017 dilaksanakan Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Malikussaleh dengan tema “Kepemimpinan Visioner” yang dihadiri Rektor Unimal, Prof. Dr. Apridar, SE., M.Si., Dekan FISIP M. Akmal, S.Sos., MA, para Pembantu Dekan, Kaprodi dan dosen serta seluruh civitas akademika di lingkungan FISIP khususnya mahasiswa/i Prodi Ilmu Politik.

Dalam kuliah umum ini Abusyik menjelaskan bahwa pemimpin dalam kancah kehidupan bermasyarakat yang majemuk harus menjadi teladan dalam mengakomodir berbagai macam perbedaan dari aspek nilai-nilai religiusitas maupun nilai-nilai adat, sosial budaya serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih dipegang teguh oleh semua lapisan masyarakat. Tugas pemimpin agar menciptakan harmonisasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, dengan cara melakukan proses internalisasi nilai-nilai agama, sosial budaya dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.

Visi-misi dibawah kepemimpinan Abusyik dalam pembangunan Kabupaten Pidie dengan slogan “Pidie Meusigrak, tertib dan melayani menuju masyarakat sejahtera dan berakhlak mulia” mempunyai makna: terjalinnya sinergitas tiga aktor pembangunan di Kabupaten Pidie yaitu pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia usaha. Prinsip “Pidie Meusigrak” sesuai dengan pepatah Abusyik yaitu “caroeng hana diduek bak ureueng sidroe, caroeng bak urueng rame.” yang bermakna “kepintaran, kehebatan, dan kekuatan berasal dari orang banyak, bukan karena satu orang”.

Implementasi prinsip Abusyik ini sebagai upaya merangkul dan mengapresiasi atas partisipasi semua elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan dengan gotong royong, bekerja ikhlas, dan sinergitas dalam mewujudkan Pidie Meusigrak.

Menurut Abusyik (Bupati), pembangunan harus dilandasi dengan “gaseh sayang” (kasih sayang), yaitu pemimpin pemerintah harus mampu menghadirkan kasih sayang kepada rakyatnya, rakyat kepada pemerintah, dan rakyat sesama rakyat serta kepada lingkungan dan seluruh alam. Landasan ini menurut Abusyik terinspirasi dari pesan Bismillahirrahmanirrahim, dalam kalimat tersebut menggambarkan dua sifat Allah, yaitu Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), ini bermakna dengan terjalinnya kasih sayang antara pemerintah, rakyat, dan alam maka akan terbentuk rasa kepedulian, kekeluargaan, dan kekompakan yang mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap agenda pembangunan karena Kabupaten Pidie memiliki potensi alam yang komplek yang berasal dari Gle, Blang, dan Laot (Gunung, Persawahan/Pertanian, dan Laut) yang sangat potensial dikelola dengan baik untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Komitmen dalam pembangunan yang efektif, efisien serta jujur dalam bekerja dengan ikhlas sesuai dengan prinsip Abusyik yaitu “darah yang betoi hareum meusulet, buet yang butoi han jeut meuasai dari nariet yang salah” yang artinya darah (manusia) yang benar, haram (tidak akan) berbohong/berkhianat, perbuatan yang benar tidak dari ucapan yang salah.

Inilah sosok Abusyik yang populer dengan Topi (Kupiah) Merah Bupati Kabupaten Pidie pemimpin yang sederhana dan merakyat serta visioner.