info kegiatan detail

FISIP Universitas Malikussaleh
  • Info
  • Info Kegiatan
staff

Oleh : Nanda Feriana

Senin sore, 16 September 2013, perempuan berkacamata itu baru saja menunaikan ibadah Shalat Ashar di Kota Lhokseumawe. Meski tak lagi muda, tampilannya modis. Hari itu dia mengenakan stelan gamis cerah berwarna terang. Berwarna biru. Kepalanya ditutupi songkok simpel yang juga berwarna biru. Sementara di pergelangan dan jemarinya, melingkar beberapa perhiasan.  Dia sumringah saat disapa.

Adalah Ir Fery Soraya nama lengkapnya. Perempuan ini merupakan istri Wakil Ketua MPR RI asal Aceh, Dr Ahmad Farhan Hamid. Kedatangannya ke Lhokseumawe merupakan bagian dari kunjungannya untuk memeriahkan Dies Natalis Universitas Malikussaleh yang ke-12. Hanya saja saat bertemu, dia tak berbicara mengenai refleksi Unimal sebagai salah satu perguruan tinggi di Aceh. Fery Soraya lebih memilih berkomentar soal pendidikan dan perempuan Aceh.

Di keluarganya sendiri, Feri Soraya menyebutkan pendidikan merupakan hal mutlak. Bahkan setinggi-tingginya bila perlu. Anak-anaknya dididik untuk menerima ragam pendidikan baik formal maupun tidak. Namun bukan berarti sekolah tinggi harus menjadi ‘pelayan negara’.

“Walau bapak sempat menjadi dosen, dan saya sendiri juga demikian, tapi kami tidak pernah menyuruh anak-anak untuk harus seperti kami. Mereka bebas menjadi apa yang mereka inginkan,” tutur perempuan kelahiran Medan, 1958 silam ini.

“Saya sangat menyayangkan jika selama ini, terutama di Aceh, banyak orang beranggapan kalau belum menjadi PNS maka belum dianggap pekerjaan,” sambungnya lagi kecewa.

Paradigma itulah yang masih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Akibatnya keikutsertaan masyarakat dalam proses pembangunan tidak optimal. Generasi muda justru terkhotomi dengan pemikiran pencari kerja. Harusnya Fery Soraya melihat, generasi muda Aceh dapat menjadi pelaku dunia usaha. Orang-orang yang menyediakan lapangan kerja untuk anak muda lainnya.

Karenanya alumni Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara ini meminta, masyarakat lebih membuka diri dengan hal-hal baru. Pendidikan bukan semata-mata soal lulus semata lalu mendapatkan pekerjaan.

“Nah supaya kehidupan kita lebih maju, paradigma berpikir seperti ini harus kita ubah. Toh, seorang pelukis kan bisa menjadi profesi juga,” tukasnya sembari tersenyum.

Cita-cita demikian lanjut peraih master di ITB Bandung ini harus dilakukan oleh semua kalangan. Termasuk pula para perempuan Aceh yang di satu sisi belum mendapatkan kesempatan yang baik untuk membuktikan diri.

Untuk itu, dia berharap ‘Kaum Adam’ di Aceh juga tak perlu risih dengan tingginya pendidikan yang diraih kalangan perempuan. Bahkan mestinya ‘support’ yang lebih besar harus diberikan. Pemahaman patriarki yang berlebihan di kalangan pria harus dikurangi.

“Banyak perempuan diperlakukan tidak adil. Ada diskriminasi. Parahnya lagi akses pendidikan perempuan juga acap kali masih dibatasi,” tandasnya berang.

Pun diakui perempuan Aceh menghadapi banyak tantangan, bukan pula hal itu menjadi kambing hitam untuk tidak bergerak maju. Dia berharap, kalangan perempuan Aceh dapat melihat tekanan seperti itu sebagai kesempatan. Apalagi saat ini akses informasi cukuplah pesat.

“Kalau bukan kaum perempuan sendiri yang menyuarakan aspirasinya, siapa lagi yang mau peduli?” tutupnya dengan setengah bertanya seraya mengakhiri percakapan. [005]

 

Sumber asli dapat diakses di : http://theglobejournal.com/feature/pendidikan-dan-perempuan-aceh-di-mata-fery-soraya/index.php