Post : 07 Oktober 2015 Pengarang : Nanda Feriana*

Tiba-tiba saja
Langit tak lagi biru ketika sehelai kain melambai-lambai
Diterpa angin bernama perjuangan
Diterpa badai bernama kemerdekaan
Diterpa Hujan yang terkadang bernama hujatan

Maka lihatlah
Kain demi kain memerahkan langit
Wajah demi wajah memerahkan murka
Murka demi murka memerahkan kita

Di tanah ini lahan-lahan hati seperti tak lagi dialiri kesucian
Gersang, kerontang
Birahi kekuasaan mengangkangi satu persatu aturan negeri
Tanah yang . . . .

Post : 11 Mei 2015 Pengarang : Suhaimi*

Kenapa harus senja?
Kata yang kau bilang paling indah

Kenapa bukan pelangi
Yang lebih berwarna.
Atau fajar
Yang lebih pagi
Senja lebih teduh. Begitu menggenggam.
Semua hasrat seharian bermuara padanya.

Pada kaki langit tua dia menunggu
Semua pertaruhan legam mentari
Dalam sketsa wajah remang-remang

Dalam jejak waktu, senja tak pernah lupa
Untuk selalu berdiri di kaki langit tua
Setelah mentari lelah
Dan tergantikan . . . .

Post : 22 Agustus 2014 Pengarang : Asriatun*

Berjalan
Kemudian diam hingga titik akhir
Karna ku tau perang ini tiada akhir
Telaga dan sungai boleh saja kering kerontang
Tapi aku tidak  akan melangkah lagi

Berlari
Kemudian berhenti di tengah perjalanan
Karna ku tau perang ini tiada akhir
Kupu-kupu dan kumbang boleh tak lagi terbang
Tapi aku tidak akan berlari lebih jauh lagi

Diam
Kemudian bungkam pada permulaan
Karna ku tau . . . .

Post : 25 Oktober 2013 Pengarang : Nanda Feriana*

Menyatu lah dalam aroma hujan
Dalam gerakan rumput-rumput bergoyang,
Dalam angin senja yang membelai manja,
Dalam hening
Dalam satu

Tatap lah wajah langit yang malu-malu itu
yang entah sedang kelabu, entah biru
Entah ada apa dengan mata hatiku
Ah, kebahagiaan tak membutuhkan pertanyaan

Terbangkan anganku kemana saja
Kemana turunnya rinai-rinai bahagia
Kemana akan membekunya luka
Kemana akan mencairnya tawa
Ke dalam dinginnya . . . .